Kamis, 15 Oktober 2015

Asuhan Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama





  Asuhan Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama

Di
S
U
S
U
N
OLEH
YUSTI KHAERANI (14292021016)


164918_241758042628591_1114548774_n.jpg

PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FAATHIR HUSADA
TANGERANG
2014/2015
 

KATA PENGANTAR

Alahamdulilah tiada kata-kata yang paling Indah selain ucapan syukur kepada Allah SWT. Karena izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ASUHAN PRIMER PADA BAYI 6 MINGGU PERTAMA. Solawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai qudwah dalam menjalani hidup ini.
Penulis menyadari keberhasilan tidak terlepas dari berbagai pihak, baik bantuan moril maupun material. Untuk itu dengan hati yang tulus Dan ikhlas penulis sampaikan rasa hormat Dan terimakasih kepada :

1.    Ibu Eni Anjarsari, SE ., selaku ketua yayasan STIKes Fatthir Husada.
2.    Bapak Rakhmat Gumilar Rukhman, S.Kp., M.Kes., selaku ketua STIKes Fatthir   Husada.
3.    Ibu Nirya, SST, M.kes ., Selaku dosen mata kuliah "Neonatus "
4.    semua teman-teman satu perjuangan program pendidikan D III Kebidanan angkatan 2014

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu di perbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik Dan saran yang berguna demi kesempurnaan makalah ini.

Tangerang,  10 September2015
Penyusun


Yusti khaerani




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………         i
DAFTAR ISI………………………………………………………………       ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………       1
A.     Latar Belakang………………………………………………………      1
B.     Rumusan Masalah……….…………………………………………        2
C.     Tujuan………………….……………………………………………      2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………..      3
Asuhan Primer Pada Bayi 6  Minggu Pertama …………………………….………    1
A.     Peran Bidan Pada Bayi Sehat……………………………………….       4-5
B.      Bounding Attachmen………………………………………………………………………  6-10
C.      Rencana Asuhan……………………………………………………………………………     10-15
D.    Indicator Pemantauan Tumbang Neonates , Bayi dan Balita…………      16-23
BAB III PENUTUP………………………………………………………..      16
A.     Kesimpulan………………………………………………………….     16
B.     Saran…………………………………………………………………     16
DAFTAR PUSTAKA
 




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada waktu kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi psikologik. Bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan masa transisi kehidupannya ke kehidupan diluar uterus berlangsung baik. Bayi baru lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan untuknya menjalani masa transisi dengan baik.
Asuhan ini diberikan dengan tujuan agar bidan dapat memberikan asuhan komprehensip kepada bayi baru lahir saat masih berada diruang rawat serta mengajarkan kepada orang tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua yang percaya diri. Setelah kelahiran, akan menjadi serangkaian perubahan tanda-tanda vital dan tampilan klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran.
Asuhan pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi, sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986), sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab (Nelson, 1986).
Dalam pemantauan tumbuh kembang neonatus bayi dan balita akan di lakukan pola pertumbuhan dan perkembangan. Pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan di dirikan suatu yang akan mencapai tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan. Dari mulai masa prenatal, masa postnatal, masa neonatus, masa bayi sampai masa remaja. Dalam indikator pemantauan pertumbuhan neonatus, bayi dan anak balita dilakukan deteksi tumbuh kembang dengan berbagai cara pengukuran, salah satunya pengukuran antropometrik.

 Pengukuran ini merupakan bagian dari langkah-langkah manajemen tumbuh kembang anak. Sedangkan dalam indikator pemantauan perkembangan neonatus, bayi dan anak balita dilakukan deteksi  Denver Development Screening Test (DDST) dengan pelaksanaan pemeriksaan, penilaian tes prilaku serta penilaian tiap item.
B.     Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan asuhan primer pada bayi 6 minggu pertama?
2. Bagaimana peran bidan pada bayi sehat?
3. Bagaimana melakukan bounding attachmen?
4. Apa rencana asuhan pada bayi 6 minggu pertama?
5. Apa yang dimaksud indicator pemantauan tumbang neonates , bayi dan balita?

C.    Tujuan
1.      Agar mahasiswa dapat mengerti dan dapat memahami apa itu yang di maksud dengan asuhan primer pada bayi 6 minggu pertama.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Asuhan Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama
Pada waktu kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi psikologik. Bayi memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan masa transisi kehidupannya ke kehidupan diluar uterus berlangsung baik. Bayi baru lahir juga membutuhkan asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan untuknya menjalani masa transisi dengan baik.
Asuhan ini diberikan dengan tujuan agar bidan dapat memberikan asuhan komprehensip kepada bayi baru lahir saat masih berada diruang rawat serta mengajarkan kepada orang tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua yang percaya diri. Setelah kelahiran, akan menjadi serangkaian perubahan tanda-tanda vital dan tampilan klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran.
Asuhan pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi, sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986), sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab (Nelson, 1986).
Dalam pemantauan tumbuh kembang neonatus bayi dan balita akan di lakukan pola pertumbuhan dan perkembangan. Pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan di dirikan suatu yang akan mencapai tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan. Dari mulai masa prenatal, masa postnatal, masa neonatus, masa bayi sampai masa remaja. Dalam indikator pemantauan pertumbuhan neonatus, bayi dan anak balita dilakukan deteksi tumbuh kembang dengan berbagai cara pengukuran, salah satunya pengukuran antropometrik.

 Pengukuran ini merupakan bagian dari langkah-langkah manajemen tumbuh kembang anak. Sedangkan dalam indikator pemantauan perkembangan neonatus, bayi dan anak balita dilakukan deteksi  Denver Development Screening Test (DDST) dengan pelaksanaan pemeriksaan, penilaian tes prilaku serta penilaian tiap item.

B.     Peran Bidan pada Bayi Baru Lahir

Beberapa prinsip pedekatan asuhan terhadap anak (termasuk didalamnya bayi dan balita) yang dipegang oleh bidan yaitu:
a.      Anak bukanlah miniatur orang dewasa tetapi merupakan sosok individu yang unik yang mempunyai kebutuhan khusus sesuai dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhannya.
b.      Berdasarkan kepada pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga permasalahan asuhan terhadap klien sesuai dengan tahap perkembangan anak. Asuhan kesehatan yang diberikan menggunakan pendekatan sistem.
c.      Selain memenuhi keutuhan fisik, juga harus memperhatikan keutuhan psikologis dan sosial.
Pengawasan yang dilakukan terhadap bayi, antara lain yaitu :
d.      Semua bayi baru lahir sebaiknya mendapatkan minimal 2 kali pemeriksaan sebelum meninggalkan rumah bersalin atau rumah sakit, atau sebelum bidan pulang (jika lahir di rumah)
e.      Pemeriksaan pertama adalah screening berhubungan dengan kelahiran.
f.        Pemeriksaan kedua lebih komprehensif, termasuk usia dan riwayat kehamilan.
g.      Jika bayi baru lahir pulang dalam waktu 6 sampai 12 jam, bidan harus menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang dalam 3-5 hari sesudah lahir.
h.      Jika bayi baru lahir tinggal di rumah sakit sampai 48 jam, kunjungan ulang dapat ditunda sampai usia bayi 10-14 hari.

Tujuan kunjungn ulang bayi baru lahir :
1.      Mengidentifikasi gejala penyakit
2.      Menawarkan tindakan screening metabolic
3.      Memberikan KIE kepada orang tua
4.      Hendaknya di poliklinik anak disediakan ruang tunggu khusus, agar bayi terlindung dari anak-anak yang sakit.
5.      Jika orang tua setuju, maka perlu dilakukan screening metabolic, apabila sebelumnya belum dilakukan, untuk mengetahui adanya hipotiroidism kongenital dan kadar penilketonuria, serta penyakit metabolic
6.      Bidan harus bisa menyiapkan specimen darah
7.      Pemeriksaan yang dibutuhkan, biasanya diambil dari daerah tumit bayi
8.      Pemeriksaan ini akan akurat jika dilakukan minimal 24 jam setelah bayi mendapat nutrisi
9.      Bidan harus mempunyai perencanaan atau planning untuk melakukan kunjungan bayi baru lahir, meliputi mengkaji ulang riwayat ibu, riwayat persalinan dan tindakan segera pada bayi
10. Bidan juga harus mengamati dan menanyakan pada orangtua dalam beradaptasi terhadap kelahiran bayi
11. Bidan harus mengkaji riwayat atau masalah pada pemenuhan nutrisi bayi, perhatian, usaha menangis, BAB, BAK, dan lain-lain
12. Pada saat melakukan kunjungan ulang, bidan juga harus melakukan pemeriksaan fisik, memberikan penyuluhan dan anticipatory guidance pada orang tua
13. Bidan harus membuat jadwal kunjungan dalam 6-8 minggu untuk imunisasi dan chek-up serta harus melakukan pengkajian fisik kembali jika ditemukan kondisi emergensi yang melakukan perawatan dokter spesialis anak.


C.    Bounding Attachment
Pengertian Bounding adalah suatu langkah untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Sedangkan Attchment adalah Proses agar tetap terjalin keterikatan batin antara individu, meliputi pencurahan perhatian dan adanya hubungan emosi dan fisik yang akrab.
Jadi dapat disimpulkan Bounding Attchment adalah kontak dini secara langsung antara ibu dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dgn post partum.
Tahap- tahap Bounding Attchment
1.      Perkenalan (aquaintance) :
a.      kontak mata
b.      Sentuhan
c.      berbicara,
d.      Mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
2.      Bounding : keterikatan
3.      Attachment : perasaan sayang yg mengikat individu dgn individu lain.
Elemen-elemen Bounding Attachment :
1.      Sentuhan
2.      Kontak mata
3.      Suara
4.      Aroma
5.      Entrainment/ bergerak sesuai pembicaraan orang dewasa
6.      Bioritme
7.      Kontak dini
Keuntungan Fisiologis Kontak dini :
1.      Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat
2.      Reflek menghisap dilakukan dini
3.      Pembentukkan kekebalan aktif dimulai
4.      Mempercepat proses ikatan antara orang tua & anak


Prinsip-Prinsip & Upaya Meningkatakan Bonding Attachment
1.             Menit pertama jam pertama
2.             Sentuhan orang tua pertama kali
3.             Adanya ikatan yang baik & sistematis
4.             Terlibat proses persalinan
5.             Persiapan PNC sebelumnya
6.             Adaptasi
7.             Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi menurunkan rasa sakit ibu,serta memberi rasa nyaman.
8.             Fasilitas untuk kontak lebih lama
9.             Penekanan pada hal-hal positif
10.        Perawat maternitas khusus (bidan)
11.        Libatkan anggota keluarga lainnya
12.        Informasi bertahap mengenai bounding

Hambatan Bonding Attachment
1.             Kurangnya support system
2.             Ibu dengan resiko
3.             Bayi dengan resiko
4.             Kehadiran bayi yang tidak diinginkan
Keuntungan Bonding Attachment
1.      Bayi merasa dicintai, diperhatikan, rasa percaya
2.      Bayi merasa aman
3.      Menjadikan ikatan batin yang kuat antara bayi dengan ibu
4.      Dasar untuk mengadakan sosialisasi





Cara untuk melakukan bounding ada bermacam-macam antara lain:
1.      Pemberian ASI ekslusif
Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
2.      Rawat gabung
Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari.
3.      memberikan ASI
Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.
4.      Kontak mata
Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.
5.      Suara
Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang.
 Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka.
6.      Aroma
Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya.
7.      Entrainment
Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.
8.      Bioritme
Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.
9.      Inisiasi menyusui Dini
Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek suckling dengan segera.
10. Kesehatan emosional orang tua
Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini.
11. Tingkat kemampuan, komunikasi dan ketrampilan untuk merawat anak.
Dalam berkomunikasi dan ketrampilan dalam merawat anak, orang tua satu dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud.
12. Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan
Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat / dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya.

D.    Rencana Asuhan Pada Bayi Usia 6 Minggu

a.               Pengumpulan Data Subjektif  
1.      Tanyakan mengenai keseluruhan kesehatan bayi.
2.      Tanyakan ibu masalah-masalah yang dialami terutam dalam proses menyusui.
3.      Jika ibu sedang menyusui bayi amati letak mulut bayi pada puting, posisis menyusui, hisapan dan reflek menelan bayi.
4.      Apakah ada orang lain di dalam rumahnya atau di sekitarnya yang dapat membantu ibu baru tersebut.
5.      Amati keadaan rumah-kebersihan.
6.      Amati persediaan makan dan air.
7.      Amati keadaan suasana hati ibu baru.
8.      Amati cara ibu tersebut berinteraksi dengan bayinya.
9.      Kapan bayi tersebut lahir (jika anda tidak menolong persalinan bayi).
10. Apakah bayi mengalami pertumbuhan dan bertambah berat badannya.
11. Apakah bayi menunjukkan tanda-tanda bahaya.
12. Apakah bayi menyusu dengan baik.
13. Apakah bayi menyusu sedikitnya 2-4 jam sekali.
14. Apakah bayi berkemih 6 minggu 8 kali sehari.
15. Apakah bayi menderita demam.
16. Apakah bayi tampak waspada saat bangun.
17. Apakah matanya mengikuti gerakan ibu.

b.               Data Objektif
Pemeriksaan fisik
Tinjauan ulang sistem-sistem utama tubuh
1.      Sistem pernafasan
Alveoli-alveoli baru tumbuh hingga beberapa tahun, saluran nafas perifer masih membuka dan masih sempit dan membrane mukosa mudah rusak dan sensitive terhadap trauma (mudah tersedak, tidak boleh ada asap dari orang lain).
Dalam keadaan normal tangis bayi terdengar keras dan bernada sedang, jika terjadi kelainan suara bayi akan terdengar bernada tinggi dan lemah.
2.      Sistem kardiovaskuler dan darah
Sirkulasi perifer berjalan lambat, ini akan mengakibatkan sianosis ringan pada tangan dan kaki serta perbedaan warna pada kulit.
3.      Sistem ginjal
Beban kerja ginjal dimulai sejak lahir.
Hingga masukan cairan meningkat, kemungkin air kemih akan tampak keruh termasuk berwarna merah muda, hal ini disebabkan oleh kadar ureum yang tidak begitu berarti.
4.      Sistem gastrointestinal
Kapasitas lambung 15-30 cc dan akan meningkat dalam minggu-minggu pertama kehidupan.
Sfingter kardiak lambung dalam matang sehingga gumoh lazim terjadi.
Pada saat lahir keasaman lambung tinggi namun pada hari ke 10 hampir tidak ada asam lambung oleh karena itu rentan terhadap terjadinya infeksi.
Waktu pengosongan lambung adalah 2,5-3 jam.
Jumlah enzim amilase dan lipase terdapat dalam jumlah yang tidak mencukupi sehingga bayi kesulitan dalam mencerna lemak dan karbohidrat.
Pada saat makanan masuk segera terjadi peristaltik cepat sehingga masukan makanan sering disertai pengosongan lambung.
5.      Pengaturan suhu
Bayi masih rentan terhadap hipotermia dikarenakan karena belum matangnya hipotalamus yang mengakibatkan tidak efisiennya pengaturan suhu tubuh bayi.
Seorang bayi yang mengalami kedingingan membutuhkan kalori dan oksigen untuk meningkatkan suhu tubuhnya.
6.      Adaptasi imunologi
BBL menunjukkan kerentanan tinggi terhadap infeksi terutama yang masuk melalui mukosa sistem pernafasan dan gastro-intestinal.
Kemampuan lokalisasi infeksi masih rendah sehingga infeksi ringan dapat dengan mudah berubah menjadi infeksi umum.
Terdapat 3 imunoglobulin utama adalah IgG, IgA, dan IgM:
a)     IgG : Melewati barier placenta sehingga sama kadarnya pada saat lahir.
b)     IgA : Melindungi terhadap infeksi saluran pernafasan, gastro-intestinal dan mata. Kadarnya mencapai dewasa dalam waktu 2 bulan dan ditemukan dalam ASI.
c)     IgM :  Mencapai kadar dewasa pada usia 2 tahun.
d)     ASI terutama kolostrum memberikan kekebalan pasif.
7.      Sistem reproduksi
Anak laki-laki menghasilkan sperma hingga pubertas.
Anak perempuan sudah mempunyai ovum dalam sel telur.
Anak perempuan dapat mengalami (pseudo) menstruasi atau pembesaran payudara terkadang disertai oleh sekresi cairan dari puting pada hari ke-4 atau ke-5. hal ini hanya berlangsung sebentar.
8.      Sistem muskuluskeletal
Ubun-ubun posterior akan menutup pada 6-8 minggu.
9.      Sistem neurologi
Relatif belum matang setelah lahir.
Reflek dapat menunjukkan keadaan normal dari integritas sistem saraf dan sistem muskuluskeletal.
10. Panca Indera
a.      Penglihatan 
Sinsitif terhadap cahaya terang dan dapat mengenali pola hitam-putih yang tercetak tebal dalam bentuk muka manusia.
Jarak fokus adalah 15-20 cm yang memungkinkan seorang bayi dapat melihat wajah ibunya pada saat menyusui.
Pada usia 2 mg bayi dapat membedakan muka ibunya dari muka yang tidak dikenal.
Perhatian pada warna, variasi dan kompleksitas pola berkembang dalam 2 bulan pertama kehidupan.
b.      Penciuman
Dapat membedakan bau menyengat.
Menyukai pada bau susu terutama ASI.
Dalam beberapa hari bayi sudah dapat membedakan bau susu ibu dengan bau susu orang lain.
c.      Pengecapan
Bereaksi secara kuat terhadap berbagai rasa dan memperlihatkan kesukaan yang kuat pada rasa manis.
d.      Pendengaran 
Tajam dan dapat melokalisasi suara dalam lingkungan sekitar dan mampu membedakan berbagai suara.
Pada akhir bulan pertama BBL lebih menyukoai suara dengan pola yang sama.
BBL juga lebih menyukai suara ibunya daripada orang lain dan merasa tenang dengan suara-suara bernada rendah.
e.      Sentuhan
Mudah terlihat dengan reaksi terhadap berbagai refleks.
Bayi sangat sensitif terhadap sentuhan.
Merasa senang dengan kontak kulit ke kulit, berendam dalam air, gosokan tangan, belaian dan gerak ayun.
Reaksi terhadap sentuhan dan refleks gengaman memperkuat hubungan.
c.        Assessment
Bayi Usia 6 Mg Dgn Kondisi Normal/ Komlikasi Tertentu/ Masalah Tertentu
d.       Planning
Dibutuhkan Penkes kepada keluarga tentang perawatan bayi yaitu : 
Meliputi : 
1.      Tempat tidur yang tepat. 
a)     Tempat tidur bayi harus hangat.
b)     Tempat tidur bayi diletakkan didekat tempat tidur ibu.
c)     Tempat tidur bayi dan ibu yang bersamaan bisa menyebahkan kematian yang tidak disengaja.
d)     Ruang bayi di bagian kebidanan bukan tempat yang tepat bagi bayi sehat.
2.      Memandikan bayi  
a)     Bayi lebih baik dimandikan setelah minggu pertama yang bertujuan untuk mempertahankan vernixcaseosa dalam tubuh bayi guna stabilisasi suhu tubuh.
b)     Bayi harus tetap di jaga kebersihannya dengan menyekanya dengan lembut dan memperhatikan lipatan kulitnya.
c)     Sabun dengan kandungan cholorophene tidak dianjurkan karena diserap kulit dan menyebabkan racun bagi sistem saraf bayi.



3.      Mengenakan pakaian
Buat bayi tepat hangat.
Baju bayi seharusnya tidak membuatnya berkeringat.
Pakaian berlapis-lapis tidak dibutuhkan oleh bayi.
Hindari kain yang menyentuh leher karena bisa mengakibatkan gesakan yang mengganggu.
Selama musim panas bayi membutuhkan pakaian dalam dan popok.

4.      Perawatan tali pusat
Perawatan dengan tidak membubuhkan apapun pada pusar bayi.
Hindari memasukkan gumpalan kapas kepada hidung bayi.

5.      Perawatan mata dan telinga
Jaga kuku bayi agar tetap pendek.
Kuku dipotong setiap 3 atau 4 hari sekali.
Kuku yang panjang akan mengakibatkan luka pada mulut atau lecet pada kulit bayi.

6.      Kapan membawa bayi keluar rumah
Bayi harus dibiasakan dibawa keluar selama 1 atau 2 jam sehari (bila udara baik).
Gunakan pakaian secukupnya tidak perlu tebal atau tipis.
Bayi harus terbiasa dengan sinar matahari  namun hindari pencaran langsung dengan pandangannya.







E.     Indikator Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan
a.        Pengertian
Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambah jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur ( Whalley dan Wong, 2000)
Pertumbuhan adalah adanya perubahan dalam jumlah akibat pertambahan sel dan pembentukan protein baru sehingga meningkatkan jumlah dan ukuran sel diseluruh bagian tubuh (Sutjiningsih, 1998 )
Perkembangan
Perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Whalley dan Wong, 2000)
Perkembangan adalah pertumbuhan dan perluasan secara peningkatan sederhana menjadi komplek dan meluasnya kemampuan individu untuk berfungsi dengan baik (Sutjiningsih,1998)
b.       Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
Yaitu peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
1.      Pola perkembangan fisik yang terarah
Terdiri dari dua prinsip yaitu cephalocaudal dan proximal distal (Wong, 1995)
Cephalocaudal adalah pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan ,tangan dan kaki
Proximaldistal yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat/sumbu tengah, seperti menggerakkan bahu dahulu baru kemudian jari-jari.

2.      Pola perkembangan dari umum ke khusus
Yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks. Misalnya melambaikan tangan kemudian memainkan jari.
3.      Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini perkembangan selanjutnya. Pada masa ini dibagi menjadi lima tahap yaitu :
a)     Masa pra lahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat padaalatdan jaringan tubuh.
b)     Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalam perubahan
c)     Masa bayi  terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya dan mempunyai kemampuan untuk melindungi dan menghindari dari hal yang mengancam dirinya
d)     Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, minat dan cara penyesuaian dengan lingkungan
e)     Masa remaja, terjadi perubahan kearah dewasa sehingga kematangan pada tanda-tanda pubertas
4.      Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan/belajar
Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses kematangan dan kematangan yang dicapainya dapat disempurnakan melalui rnagsangan yang tepat. Masa ini merupakan masa kritis yangharus dirangsang agar mencapai perkembangan selanjutnya melalui proses belajar (Gunarsa dalam Hidayat, 2005)
c.        Faktor yang Menyebabkan Tumbuh Kembang Anak
1.        Faktor Herediter
Merupakan faktor pertumbuhan yang dapat diturunkan yaitu suku, ras, dan jenis kelamin (Marlow, 1988 dalam Supartini, 2004). Jenis kelamin ditentukan sejak dalam kandungan.
 Anak laki-laki setelah lahir cenderung lebih besar dan tinggi dari pada anak perempuan, hal ini akan nampak saat anak sudah mengalami masa pra-pubertas. Ras dan suku bangsa juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Misalnya suku bangsa Asia memiliki tubuh yang lebih pendek dari pada orang Eropa atau suku Asmat dari Irian berkulit hitam
2.        Faktor Lingkungan
a)     Lingkungan pra-natal
Kondisi lingkungan yang mempengaruhi fetus dalam uterus yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin antara lain gangguan nutrisi karena ibu kurang mendapat asupan gizi yang baik, gangguan endokrin pada ibu (diabetes mellitus), ibu yang mendapatkan terapi sitostatika atau mengalami infeksi rubela, toxoplasmosis, sifilis dan herpes. Faktor lingkungan yang lain adalah radiasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ otak janin.
b)     Lingkungan pos-natal
Lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan setelah bayi lahir adalah :
1)      Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air.u Apabila kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpenuhi maka dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Asupan nutrisi yang berlebihan juga berdampak buruk bagi kesehatan anak, yaitu terjadi penumpukan kadar lemak yang berlebihan dalam sel/jaringan bahkan pada pembuluh darah.
Penyebab status nutrisi kurang pada anak :
·        Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif
·        Hiperaktivitas fisiik atau istirahat yang kurang
·        Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi
·        Stres emosi yang dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau absorbs makanan yang adekuat
2)      Budaya Lingkungan
Budaya keluarga atau masyarakat akan mempengaruhi bagaimana mereka dalam mempersepsikan dan memahami kesehatan dan perilaku hidup sehat. Pola perilaku ibu hamil dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya, misalnya larangan untuk makan makanan tertentu padahal zat gizi tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Keyakinan untuk melahirkan d dukun beranak dari pada di tenaga kesehatan. Setelah anak lahir dibesarkan di lingkungan atau berdasarkan lingkungan budaya masyarakat setempat.
3)      Status Sosial dan Ekonomi Keluarga
Anak yang dibesarkan di keluarga yang nerekonomi tinggi untuk pemenuhan kebutuhan gizi akan tercukupi dengan baik dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang berekonomi sedang atau kurang. Demikian juga dengan status pendidikan orang tua, keluarga dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima arahan terutama tentang peningkatan pertumbuhan dan perkembangan anak, penggunaan fasilitas kesehatan dll dibandingka dengan keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah.
4)      Iklim atau Cuaca
Iklim tertentu akan mempengaruhi status kesehatan anak misalnya musim penghujan akan dapat menimbulkan banjir sehingga menyebabkan sulitnya transportasi untuk mendapatkan bahan makanan, timbul penyakit menular,dan penyakit kulit yang dapat menyerang bayi dan anak-anak.
Anak yang tinggal di daerah endemik misalnya endemik demam berdarah, jika terjadi perubahan cuaca wabah demam berdarah akan meningkat.

5)     Olahraga atau latihan fisik
Manfaat olah raga atau latihan fisikyang teratur akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga meningkatkan suplai oksigen ke seluruh tubuh, meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot dan jaringan sel
6)      Posisi Anak dalam Keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah atau anak bungsu akan mempengaruhi pola perkembangan anak tersebut diasuh dan dididik dalam keluarga.
7)      Status Kesehatan
Status kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak dalm kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih mudah dibandingkan dengan anak dalam kondisi sakit.
8)     Faktor Hormonal
Faktor hormonal yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak adalah somatotropon yang berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, hormon tiroid dengan mestimulasi metabolisme tubuh, glukokortiroid yang berfungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi estrogen selanjutnya hormon tersebut akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan sesuai dengan peran hormonnya.


d.       Pengukuran Antropometrik
Pengertian istilah “nutitional anthropometry” mula-mula muncul dalam “Body measurements and Human Nutrition” yang ditulis oleh Brozek pada tahun 1966 yang telah didefinisikan oleh jellife (1966 dalam Moersintowati, BN 2005) sebagai pengukuran pada variasi dimensi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia dan derajat nutrisi yang berbeda.
Pengukuran antropometri ada dua tipe yaitu pertumbuhan dan ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran lemak dan massa tubuh yang bebas lemak. Penilaian pertumbuhan merupakan komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hamper setiap masalah yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain social dapat memberikan efek yang yang sangat penting untuk penilaian pertumbuhan adalah kurva pertumbuhan (growth chart) pada gambar terlampir, dilengkapi dengan alat timbangan yang akurat, papan pengukur, stadiometer dan pita pengukur.
1)             Pengukuran antropometri, meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan dan tebal kulit.
2)             Penggunaan kurva pertumbuhan anak (KMS, NCHS),
3)             Penilaian dan analisis status gizi dan pertumbuhan anak.
4)             Penilaian perkembangan anak dan maturasi
5)             Intervensi (preventif,promotif, kuratif, rehabilitatif).
6)             Perlu ditekankan bahwa pengukuran antropometri hanyalah satu dari sejumlah teknik-teknik yang dapat untuk menilai pertumbuhan dan status gizi. Pengukuran dengan cara-cara yang baku dilakukan beberapa kali secara berkala pada barat dan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkaran kepala tebal lipatan kulit (skinfold) diperlukan untuk penilaian pertumbuhan dan status gizi pada bayi dan anak.
7)             Pertumbuhan Berat Badan dan Tinggi Badan Terhadap Umur
8)             Pengukuran antropometri sesuai dengan cara-cara yang baku, beberapa kali secara berkala misalnya berat badan anak di ukur tanpa baju. Mengukur panjang bayi dilakukan oleh dua orang pemeriksa pada pada papan pengukur (infantometer),tinggi badan anak diatas dua tahun diukur dengan posisi anak berdiri menggunakan stadiometer. Baku yang dianjurkan adalah bukuk NCHS secara Internasional untuk anak usian 0-18 tahun yang dibedakan menurut jender laki-laki dan wanita.
9)             Penilain berat badan (BB) berdasarumur menurut WHO dengan baku NCHS. Grafik pertumbuhan BB dalam KMS dibuat berdasarkan baku WHO / NCHS yang disesuaikan dengan keadaan di Indonesia, meliputi daerah merah menghubungkan angka-angka 70% median, daerah kuning di atas merah pada batas 75-80% median. Daerah hijau muda adalah 85-90% median, daerah hijau tua 95-100% median.
10)         Penilaian panjang badan berdasarkan umur menurut WHO dengan baku NCHS, meliputi lebih dari atau sama dengan 90% adalah normal, kurang dari 90% adalah abnormal (malnutrisi kronis). Cara canggih yang lebih tepat untuk menetapkan obesitas pada anak dengan kalkulasi skor Z (atau standard devisia) dengan mengurangi nilai berat badan yang dibagi dengan standard deviasi populasi referens. Skoratau > +2 (misalnya 2SD di atas median) dipakai sebagai indicator obesitas.
11)          Indikator Pemantauan Perkembangan Neonatus Bayi dan Anak Balita
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan atau fungsi semua system organ tubuh sebagai akibat bertambahnya kematangan fungsi-fungsi system organ tubuh.
Perkembangan anak tidak hanya di tentukan oleh factor  genetic (nature) atau dianggap sebagai sebagai produk lingkungan (nurture) saja. Model biopsikososial pada tumbuh kembang anak mengakui pentingnya pengaruh kekuatan intrinsic dan ekstrinsik. Tinggi badan misalnya adalah fungsi antara factor genetic (biologic), kebiasaan makan (psikologik) dan terpenuhinya makanan bergizi (social) pada anak.
Gangguan perkembnagan dapat menimbulkan manifestasi klinik yang bermacam-macam. Manifestasi klinik gangguan perkembangan tersebut, yakni gangguan motorik kasar, gangguan wicara,gangguan belajar, gangguan psikologis, gangguan makan, gangguan buang air besar, kecemasan dan lain-lain.
Skrining perbangan adalah prosedur yang relative cepat, sederhana dan murah bagi anak-anak yang tanpa gejala namun mempunyai resiko tinggi atau dicurigai mempunyai masalah. Beyi atau anak dengan resiko tinggi berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik rutin harus dilakukan skrining secara periodic. Bayi atau anak dengan resiko rendah dimulai dengan pertanyaan pra-skrining yang diisi atau dijawab oleh orang tua. Apabila ada kecurigaan dalam tumbuh kembang yang dijawab oleh orang tua balita.baru dilanjutkan dengan skirining.
Perangkat skrining perkembangan, terdiri dari beberapa perangkat seperti : denver development screener (BIS). Pemeriksaan lanjutan juga berguna untuk menentukan diagnosis. Pemeriksaan lanjutan ini dilaksanakan tergantung jenis gangguan tumbuh kembang balita seperti pemeriksaan neurologis, radiologis, genetis, endokrin dan lain lain. Apabila semakin kompleks gangguan tumbuh kembang bayi, diperlukan tim yang lebih lengkap dan terkoordinir yang melibatkan dokter spesialis anak,special THT, spesialis mata, psikiater, rehabilitasi medic, ortopedi dan lain-lain. Dari sini akan terlihat besarnya peran orang tua dan anak dalam dalam proses tumbuh kembang anak.
12)    Denver Development Screening Test
Deteksi tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak secara dini, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan. Tenaga kesehatan juga akan mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan atau intervensi yang tepat. Terutama ketika harus melibatkan ibu/ keluarga.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Asuhan ini diberikan dengan tujuan agar bidan dapat memberikan asuhan komprehensip kepada bayi baru lahir saat masih berada diruang rawat serta mengajarkan kepada orang tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua yang percaya diri. Setelah kelahiran, akan menjadi serangkaian perubahan tanda-tanda vital dan tampilan klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran.
Asuhan pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi, sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986), sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab (Nelson, 1986).

B.     Saran
Anak adalah anugrah tuhan yang paling berharga jadi cintai dan sayangilah dia.





                                                                                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar