Asuhan
Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama
Di
S
U
S
U
N
OLEH
YUSTI KHAERANI (14292021016)

PRODI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FAATHIR
HUSADA
TANGERANG
2014/2015
KATA PENGANTAR
Alahamdulilah
tiada kata-kata yang paling Indah selain ucapan syukur kepada Allah SWT. Karena
izin-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ASUHAN PRIMER PADA BAYI 6 MINGGU PERTAMA.
Solawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai qudwah
dalam menjalani hidup ini.
Penulis
menyadari keberhasilan tidak terlepas dari berbagai pihak, baik bantuan moril
maupun material. Untuk itu dengan hati yang tulus Dan ikhlas penulis sampaikan
rasa hormat Dan terimakasih kepada :
1. Ibu
Eni Anjarsari, SE ., selaku ketua yayasan STIKes Fatthir Husada.
2. Bapak
Rakhmat Gumilar Rukhman, S.Kp., M.Kes., selaku ketua STIKes Fatthir
Husada.
3. Ibu
Nirya, SST, M.kes ., Selaku dosen mata kuliah "Neonatus "
4. semua
teman-teman satu perjuangan program pendidikan D III Kebidanan angkatan 2014
Penulis
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu di
perbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan kritik Dan saran yang berguna demi
kesempurnaan makalah ini.
Tangerang, 10 September2015
Penyusun
Yusti khaerani
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR…………………………………………………… i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………… ii
BAB
I PENDAHULUAN………………………………………………… 1
A.
Latar Belakang……………………………………………………… 1
B.
Rumusan Masalah……….………………………………………… 2
C.
Tujuan………………….…………………………………………… 2
BAB
II PEMBAHASAN………………………………………………….. 3
Asuhan Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama …………………………….……… 1
A.
Peran Bidan Pada Bayi Sehat………………………………………. 4-5
B. Bounding Attachmen……………………………………………………………………… 6-10
C. Rencana Asuhan…………………………………………………………………………… 10-15
D.
Indicator Pemantauan Tumbang Neonates , Bayi dan Balita………… 16-23
BAB
III PENUTUP……………………………………………………….. 16
A.
Kesimpulan…………………………………………………………. 16
B.
Saran………………………………………………………………… 16
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada waktu
kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi psikologik. Bayi
memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan masa transisi kehidupannya ke
kehidupan diluar uterus berlangsung baik. Bayi baru lahir juga membutuhkan
asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan untuknya menjalani masa transisi
dengan baik.
Asuhan ini
diberikan dengan tujuan agar bidan dapat memberikan asuhan komprehensip kepada
bayi baru lahir saat masih berada diruang rawat serta mengajarkan kepada orang
tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua yang percaya diri. Setelah
kelahiran, akan menjadi serangkaian perubahan tanda-tanda vital dan tampilan
klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran.
Asuhan
pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan
Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment
harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi,
sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986),
sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua
individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab
(Nelson, 1986).
Dalam
pemantauan tumbuh kembang neonatus bayi dan balita akan di lakukan pola
pertumbuhan dan perkembangan. Pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan di dirikan suatu yang akan mencapai tahap-tahap pertumbuhan
dan perkembangan. Dari mulai masa prenatal, masa postnatal, masa neonatus, masa
bayi sampai masa remaja. Dalam indikator pemantauan pertumbuhan neonatus, bayi
dan anak balita dilakukan deteksi tumbuh kembang dengan berbagai cara
pengukuran, salah satunya pengukuran antropometrik.
Pengukuran ini merupakan bagian dari
langkah-langkah manajemen tumbuh kembang anak. Sedangkan dalam indikator
pemantauan perkembangan neonatus, bayi dan anak balita dilakukan deteksi Denver Development Screening Test (DDST)
dengan pelaksanaan pemeriksaan, penilaian tes prilaku serta penilaian tiap
item.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
yang di maksud dengan asuhan primer pada bayi 6 minggu pertama?
2.
Bagaimana
peran bidan pada bayi sehat?
3.
Bagaimana
melakukan bounding attachmen?
4.
Apa
rencana asuhan pada bayi 6 minggu pertama?
5.
Apa
yang dimaksud indicator pemantauan tumbang neonates , bayi dan balita?
C.
Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengerti dan
dapat memahami apa itu yang di maksud dengan asuhan primer pada bayi 6 minggu
pertama.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan
Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama
Pada waktu
kelahiran, tubuh bayi baru lahir mengalami sejumlah adaptasi psikologik. Bayi
memerlukan pemantauan ketat untuk menentukan masa transisi kehidupannya ke
kehidupan diluar uterus berlangsung baik. Bayi baru lahir juga membutuhkan
asuhan yang dapat meningkatkan kesempatan untuknya menjalani masa transisi
dengan baik.
Asuhan ini
diberikan dengan tujuan agar bidan dapat memberikan asuhan komprehensip kepada
bayi baru lahir saat masih berada diruang rawat serta mengajarkan kepada orang
tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua yang percaya diri. Setelah
kelahiran, akan menjadi serangkaian perubahan tanda-tanda vital dan tampilan
klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran.
Asuhan
pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan
Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment
harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi,
sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986),
sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua
individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab
(Nelson, 1986).
Dalam
pemantauan tumbuh kembang neonatus bayi dan balita akan di lakukan pola
pertumbuhan dan perkembangan. Pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan di dirikan suatu yang akan mencapai tahap-tahap pertumbuhan
dan perkembangan. Dari mulai masa prenatal, masa postnatal, masa neonatus, masa
bayi sampai masa remaja. Dalam indikator pemantauan pertumbuhan neonatus, bayi
dan anak balita dilakukan deteksi tumbuh kembang dengan berbagai cara
pengukuran, salah satunya pengukuran antropometrik.
Pengukuran ini merupakan bagian dari
langkah-langkah manajemen tumbuh kembang anak. Sedangkan dalam indikator pemantauan
perkembangan neonatus, bayi dan anak balita dilakukan deteksi Denver Development Screening Test (DDST)
dengan pelaksanaan pemeriksaan, penilaian tes prilaku serta penilaian tiap
item.
B.
Peran Bidan pada Bayi Baru Lahir
Beberapa
prinsip pedekatan asuhan terhadap anak (termasuk didalamnya bayi dan balita)
yang dipegang oleh bidan yaitu:
a. Anak bukanlah miniatur orang dewasa
tetapi merupakan sosok individu yang unik yang mempunyai kebutuhan khusus
sesuai dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhannya.
b. Berdasarkan kepada pertumbuhan dan
perkembangan anak sehingga permasalahan asuhan terhadap klien sesuai dengan
tahap perkembangan anak. Asuhan kesehatan yang diberikan menggunakan pendekatan
sistem.
c. Selain memenuhi keutuhan fisik, juga
harus memperhatikan keutuhan psikologis dan sosial.
Pengawasan
yang dilakukan terhadap bayi, antara lain yaitu :
d. Semua bayi baru lahir sebaiknya
mendapatkan minimal 2 kali pemeriksaan sebelum meninggalkan rumah bersalin atau
rumah sakit, atau sebelum bidan pulang (jika lahir di rumah)
e. Pemeriksaan pertama adalah screening
berhubungan dengan kelahiran.
f. Pemeriksaan kedua lebih
komprehensif, termasuk usia dan riwayat kehamilan.
g. Jika bayi baru lahir pulang dalam
waktu 6 sampai 12 jam, bidan harus menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan
ulang dalam 3-5 hari sesudah lahir.
h. Jika bayi baru lahir tinggal di
rumah sakit sampai 48 jam, kunjungan ulang dapat ditunda sampai usia bayi 10-14
hari.
Tujuan kunjungn ulang bayi baru
lahir :
1. Mengidentifikasi gejala penyakit
2. Menawarkan tindakan screening
metabolic
3. Memberikan KIE kepada orang tua
4. Hendaknya di poliklinik anak
disediakan ruang tunggu khusus, agar bayi terlindung dari anak-anak yang sakit.
5. Jika orang tua setuju, maka perlu
dilakukan screening metabolic, apabila sebelumnya belum dilakukan, untuk
mengetahui adanya hipotiroidism kongenital dan kadar penilketonuria, serta
penyakit metabolic
6. Bidan harus bisa menyiapkan specimen
darah
7. Pemeriksaan yang dibutuhkan,
biasanya diambil dari daerah tumit bayi
8. Pemeriksaan ini akan akurat jika
dilakukan minimal 24 jam setelah bayi mendapat nutrisi
9. Bidan harus mempunyai perencanaan
atau planning untuk melakukan kunjungan bayi baru lahir, meliputi mengkaji
ulang riwayat ibu, riwayat persalinan dan tindakan segera pada bayi
10. Bidan juga harus mengamati dan
menanyakan pada orangtua dalam beradaptasi terhadap kelahiran bayi
11. Bidan harus mengkaji riwayat atau
masalah pada pemenuhan nutrisi bayi, perhatian, usaha menangis, BAB, BAK, dan
lain-lain
12. Pada saat melakukan kunjungan ulang,
bidan juga harus melakukan pemeriksaan fisik, memberikan penyuluhan dan
anticipatory guidance pada orang tua
13. Bidan harus membuat jadwal kunjungan
dalam 6-8 minggu untuk imunisasi dan chek-up serta harus melakukan pengkajian
fisik kembali jika ditemukan kondisi emergensi yang melakukan perawatan dokter
spesialis anak.
C.
Bounding Attachment
Pengertian
Bounding adalah suatu langkah untuk mengungkapkan perasaan kasih sayang oleh
ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Sedangkan Attchment adalah Proses agar
tetap terjalin keterikatan batin antara individu, meliputi pencurahan perhatian
dan adanya hubungan emosi dan fisik yang akrab.
Jadi dapat
disimpulkan Bounding Attchment adalah kontak dini secara langsung antara ibu
dan bayi setelah proses persalinan, dimulai pada kala III sampai dgn post
partum.
Tahap- tahap Bounding Attchment
1. Perkenalan (aquaintance) :
a. kontak mata
b. Sentuhan
c. berbicara,
d. Mengeksplorasi segera setelah
mengenal bayinya.
2. Bounding : keterikatan
3. Attachment : perasaan sayang yg
mengikat individu dgn individu lain.
Elemen-elemen Bounding Attachment :
1. Sentuhan
2. Kontak mata
3. Suara
4. Aroma
5. Entrainment/ bergerak sesuai
pembicaraan orang dewasa
6. Bioritme
7. Kontak dini
Keuntungan Fisiologis Kontak dini :
1. Kadar oksitosin dan prolaktin
meningkat
2. Reflek menghisap dilakukan dini
3. Pembentukkan kekebalan aktif dimulai
4. Mempercepat proses ikatan antara
orang tua & anak
Prinsip-Prinsip & Upaya
Meningkatakan Bonding Attachment
1.
Menit
pertama jam pertama
2.
Sentuhan
orang tua pertama kali
3.
Adanya
ikatan yang baik & sistematis
4.
Terlibat
proses persalinan
5.
Persiapan
PNC sebelumnya
6.
Adaptasi
7.
Kontak
sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi
menurunkan rasa sakit ibu,serta memberi rasa nyaman.
8.
Fasilitas
untuk kontak lebih lama
9.
Penekanan
pada hal-hal positif
10.
Perawat
maternitas khusus (bidan)
11.
Libatkan
anggota keluarga lainnya
12.
Informasi
bertahap mengenai bounding
Hambatan
Bonding Attachment
1.
Kurangnya
support system
2.
Ibu
dengan resiko
3.
Bayi
dengan resiko
4.
Kehadiran
bayi yang tidak diinginkan
Keuntungan
Bonding Attachment
1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, rasa
percaya
2. Bayi merasa aman
3. Menjadikan ikatan batin yang kuat antara
bayi dengan ibu
4. Dasar untuk mengadakan sosialisasi
Cara untuk melakukan bounding ada
bermacam-macam antara lain:
1. Pemberian ASI ekslusif
Dengan
dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara
langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu
merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.
2. Rawat gabung
Rawat
gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi
terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan
antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis
bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang
mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan
dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari.
3. memberikan ASI
Dengan
memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan
nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga
memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu
akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila
ayah bayi berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga.
4. Kontak mata
Beberapa
ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat
dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk
saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat
diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.
5. Suara
Mendengar
dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. orang tua
menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang.
Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa
bayinya dalam keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan
menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan
menjadi tenang dan berpaling kearah mereka.
6. Aroma
Setiap
anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali
aroma susu ibunya.
7. Entrainment
Bayi
mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai
dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan,
mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat
anak mulai bicara.
8. Bioritme
Salah satu
tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua
dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan
memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.
9. Inisiasi menyusui Dini
Setelah
bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan
mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek
suckling dengan segera.
10. Kesehatan emosional orang tua
Orang tua yang mengharapkan
kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu akan memberikan respon emosi yang
berbeda dengan orang tua yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut.
Respon emosi yang positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment
ini.
11. Tingkat kemampuan, komunikasi dan
ketrampilan untuk merawat anak.
Dalam
berkomunikasi dan ketrampilan dalam merawat anak, orang tua satu dengan yang
lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang dimiliki masing-masing.
Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya maka akan semakin mudah pula
bounding attachment terwujud.
12. Dukungan sosial seperti keluarga, teman
dan pasangan
Dukungan
dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting
untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orang-orang terdekat akan
memberikan suatu semangat / dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan
kasih sayang yang penuh kepada bayinya.
D.
Rencana
Asuhan Pada Bayi Usia 6 Minggu
a.
Pengumpulan Data Subjektif
1. Tanyakan mengenai keseluruhan
kesehatan bayi.
2. Tanyakan ibu masalah-masalah yang
dialami terutam dalam proses menyusui.
3. Jika ibu sedang menyusui bayi amati
letak mulut bayi pada puting, posisis menyusui, hisapan dan reflek menelan
bayi.
4. Apakah ada orang lain di dalam
rumahnya atau di sekitarnya yang dapat membantu ibu baru tersebut.
5. Amati keadaan rumah-kebersihan.
6. Amati persediaan makan dan air.
7. Amati keadaan suasana hati ibu baru.
8. Amati cara ibu tersebut berinteraksi
dengan bayinya.
9. Kapan bayi tersebut lahir (jika anda
tidak menolong persalinan bayi).
10. Apakah bayi mengalami pertumbuhan
dan bertambah berat badannya.
11. Apakah bayi menunjukkan tanda-tanda
bahaya.
12. Apakah bayi menyusu dengan baik.
13. Apakah bayi menyusu sedikitnya 2-4
jam sekali.
14. Apakah bayi berkemih 6 minggu 8 kali
sehari.
15. Apakah bayi menderita demam.
16. Apakah bayi tampak waspada saat
bangun.
17.
Apakah
matanya mengikuti gerakan ibu.
b.
Data Objektif
Pemeriksaan
fisik
Tinjauan
ulang sistem-sistem utama tubuh
1. Sistem pernafasan
Alveoli-alveoli
baru tumbuh hingga beberapa tahun, saluran nafas perifer masih membuka dan
masih sempit dan membrane mukosa mudah rusak dan sensitive terhadap trauma
(mudah tersedak, tidak boleh ada asap dari orang lain).
Dalam
keadaan normal tangis bayi terdengar keras dan bernada sedang, jika terjadi
kelainan suara bayi akan terdengar bernada tinggi dan lemah.
2. Sistem kardiovaskuler dan darah
Sirkulasi
perifer berjalan lambat, ini akan mengakibatkan sianosis ringan pada tangan dan
kaki serta perbedaan warna pada kulit.
3. Sistem ginjal
Beban kerja ginjal dimulai sejak
lahir.
Hingga masukan cairan meningkat,
kemungkin air kemih akan tampak keruh termasuk berwarna merah muda, hal ini
disebabkan oleh kadar ureum yang tidak begitu berarti.
4.
Sistem
gastrointestinal
Kapasitas lambung 15-30 cc dan akan
meningkat dalam minggu-minggu pertama kehidupan.
Sfingter kardiak lambung dalam
matang sehingga gumoh lazim terjadi.
Pada saat lahir keasaman lambung
tinggi namun pada hari ke 10 hampir tidak ada asam lambung oleh karena itu
rentan terhadap terjadinya infeksi.
Waktu pengosongan lambung adalah
2,5-3 jam.
Jumlah enzim amilase dan lipase terdapat
dalam jumlah yang tidak mencukupi sehingga bayi kesulitan dalam mencerna lemak
dan karbohidrat.
Pada saat makanan masuk segera
terjadi peristaltik cepat sehingga masukan makanan sering disertai pengosongan
lambung.
5. Pengaturan suhu
Bayi masih
rentan terhadap hipotermia dikarenakan karena belum matangnya hipotalamus yang
mengakibatkan tidak efisiennya pengaturan suhu tubuh bayi.
Seorang
bayi yang mengalami kedingingan membutuhkan kalori dan oksigen untuk
meningkatkan suhu tubuhnya.
6.
Adaptasi
imunologi
BBL
menunjukkan kerentanan tinggi terhadap infeksi terutama yang masuk melalui
mukosa sistem pernafasan dan gastro-intestinal.
Kemampuan
lokalisasi infeksi masih rendah sehingga infeksi ringan dapat dengan mudah
berubah menjadi infeksi umum.
Terdapat 3 imunoglobulin utama
adalah IgG, IgA, dan IgM:
a) IgG : Melewati barier placenta
sehingga sama kadarnya pada saat lahir.
b) IgA : Melindungi terhadap infeksi
saluran pernafasan, gastro-intestinal dan mata. Kadarnya mencapai dewasa dalam
waktu 2 bulan dan ditemukan dalam ASI.
c) IgM : Mencapai kadar dewasa pada usia 2 tahun.
d) ASI terutama kolostrum memberikan
kekebalan pasif.
7. Sistem reproduksi
Anak laki-laki menghasilkan sperma
hingga pubertas.
Anak perempuan sudah mempunyai ovum
dalam sel telur.
Anak perempuan dapat mengalami
(pseudo) menstruasi atau pembesaran payudara terkadang disertai oleh sekresi
cairan dari puting pada hari ke-4 atau ke-5. hal ini hanya berlangsung
sebentar.
8. Sistem muskuluskeletal
Ubun-ubun posterior akan menutup
pada 6-8 minggu.
9. Sistem neurologi
Relatif belum matang setelah lahir.
Reflek dapat menunjukkan keadaan
normal dari integritas sistem saraf dan sistem muskuluskeletal.
10. Panca Indera
a. Penglihatan
Sinsitif
terhadap cahaya terang dan dapat mengenali pola hitam-putih yang tercetak tebal
dalam bentuk muka manusia.
Jarak
fokus adalah 15-20 cm yang memungkinkan seorang bayi dapat melihat wajah ibunya
pada saat menyusui.
Pada usia
2 mg bayi dapat membedakan muka ibunya dari muka yang tidak dikenal.
Perhatian
pada warna, variasi dan kompleksitas pola berkembang dalam 2 bulan pertama
kehidupan.
b. Penciuman
Dapat membedakan bau menyengat.
Menyukai pada bau susu terutama ASI.
Dalam beberapa hari bayi sudah dapat
membedakan bau susu ibu dengan bau susu orang lain.
c. Pengecapan
Bereaksi
secara kuat terhadap berbagai rasa dan memperlihatkan kesukaan yang kuat pada
rasa manis.
d. Pendengaran
Tajam dan
dapat melokalisasi suara dalam lingkungan sekitar dan mampu membedakan berbagai
suara.
Pada akhir
bulan pertama BBL lebih menyukoai suara dengan pola yang sama.
BBL juga
lebih menyukai suara ibunya daripada orang lain dan merasa tenang dengan
suara-suara bernada rendah.
e. Sentuhan
Mudah terlihat dengan reaksi
terhadap berbagai refleks.
Bayi sangat sensitif terhadap
sentuhan.
Merasa senang dengan kontak kulit ke
kulit, berendam dalam air, gosokan tangan, belaian dan gerak ayun.
Reaksi terhadap sentuhan dan refleks
gengaman memperkuat hubungan.
c.
Assessment
Bayi Usia
6 Mg Dgn Kondisi Normal/ Komlikasi Tertentu/ Masalah Tertentu
d. Planning
Dibutuhkan
Penkes kepada keluarga tentang perawatan bayi yaitu :
Meliputi
:
1. Tempat tidur yang tepat.
a) Tempat tidur bayi harus hangat.
b) Tempat tidur bayi diletakkan didekat
tempat tidur ibu.
c) Tempat tidur bayi dan ibu yang
bersamaan bisa menyebahkan kematian yang tidak disengaja.
d) Ruang bayi di bagian kebidanan bukan
tempat yang tepat bagi bayi sehat.
2. Memandikan bayi
a) Bayi lebih baik dimandikan setelah
minggu pertama yang bertujuan untuk mempertahankan vernixcaseosa dalam tubuh
bayi guna stabilisasi suhu tubuh.
b) Bayi harus tetap di jaga
kebersihannya dengan menyekanya dengan lembut dan memperhatikan lipatan
kulitnya.
c) Sabun dengan kandungan cholorophene
tidak dianjurkan karena diserap kulit dan menyebabkan racun bagi sistem saraf
bayi.
3.
Mengenakan
pakaian
Buat bayi tepat hangat.
Baju bayi seharusnya tidak
membuatnya berkeringat.
Pakaian berlapis-lapis tidak
dibutuhkan oleh bayi.
Hindari kain yang menyentuh leher
karena bisa mengakibatkan gesakan yang mengganggu.
Selama musim panas bayi membutuhkan
pakaian dalam dan popok.
4.
Perawatan
tali pusat
Perawatan
dengan tidak membubuhkan apapun pada pusar bayi.
Hindari
memasukkan gumpalan kapas kepada hidung bayi.
5.
Perawatan
mata dan telinga
Jaga kuku
bayi agar tetap pendek.
Kuku
dipotong setiap 3 atau 4 hari sekali.
Kuku yang
panjang akan mengakibatkan luka pada mulut atau lecet pada kulit bayi.
6.
Kapan
membawa bayi keluar rumah
Bayi harus
dibiasakan dibawa keluar selama 1 atau 2 jam sehari (bila udara baik).
Gunakan
pakaian secukupnya tidak perlu tebal atau tipis.
Bayi harus
terbiasa dengan sinar matahari namun
hindari pencaran langsung dengan pandangannya.
E. Indikator
Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan
a.
Pengertian
Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambah jumlah
dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur (
Whalley dan Wong, 2000)
Pertumbuhan adalah adanya perubahan
dalam jumlah akibat pertambahan sel dan pembentukan protein baru sehingga
meningkatkan jumlah dan ukuran sel diseluruh bagian tubuh (Sutjiningsih, 1998 )
Perkembangan
Perkembangan adalah bertambah
sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan
belajar (Whalley dan Wong, 2000)
Perkembangan adalah pertumbuhan dan
perluasan secara peningkatan sederhana menjadi komplek dan meluasnya kemampuan
individu untuk berfungsi dengan baik (Sutjiningsih,1998)
b. Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
Yaitu
peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
1. Pola perkembangan fisik yang terarah
Terdiri
dari dua prinsip yaitu cephalocaudal dan proximal distal (Wong, 1995)
Cephalocaudal adalah pola
pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari kepala yang ditandai dengan
perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian berkembang kemampuan untuk
menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian
ekstremitas bawah lengan ,tangan dan kaki
Proximaldistal yaitu pola
pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan anggota gerak
yang paling dekat dengan pusat/sumbu tengah, seperti menggerakkan bahu dahulu
baru kemudian jari-jari.
2.
Pola
perkembangan dari umum ke khusus
Yaitu pola pertumbuhan dan
perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum
(sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks. Misalnya
melambaikan tangan kemudian memainkan jari.
3. Pola perkembangan berlangsung dalam
tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri khusus
dalam setiap tahapan perkembangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini
perkembangan selanjutnya. Pada masa ini dibagi menjadi lima tahap yaitu :
a) Masa pra lahir, terjadi pertumbuhan
yang sangat cepat padaalatdan jaringan tubuh.
b) Masa neonatus, terjadi proses
penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan hampir sedikit aspek pertumbuhan
fisik dalam perubahan
c) Masa bayi terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya
dan mempunyai kemampuan untuk melindungi dan menghindari dari hal yang
mengancam dirinya
d) Masa anak, terjadi perkembangan yang
cepat dalam aspek sifat, sikap, minat dan cara penyesuaian dengan lingkungan
e) Masa remaja, terjadi perubahan kearah
dewasa sehingga kematangan pada tanda-tanda pubertas
4. Pola perkembangan dipengaruhi oleh
kematangan dan latihan/belajar
Terdapat
saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses
kematangan dan kematangan yang dicapainya dapat disempurnakan melalui
rnagsangan yang tepat. Masa ini merupakan masa kritis yangharus dirangsang agar
mencapai perkembangan selanjutnya melalui proses belajar (Gunarsa dalam
Hidayat, 2005)
c.
Faktor
yang Menyebabkan Tumbuh Kembang Anak
1.
Faktor
Herediter
Merupakan
faktor pertumbuhan yang dapat diturunkan yaitu suku, ras, dan jenis kelamin
(Marlow, 1988 dalam Supartini, 2004). Jenis kelamin ditentukan sejak dalam
kandungan.
Anak laki-laki setelah lahir cenderung lebih
besar dan tinggi dari pada anak perempuan, hal ini akan nampak saat anak sudah
mengalami masa pra-pubertas. Ras dan suku bangsa juga mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan. Misalnya suku bangsa Asia memiliki tubuh yang lebih pendek
dari pada orang Eropa atau suku Asmat dari Irian berkulit hitam
2.
Faktor
Lingkungan
a) Lingkungan pra-natal
Kondisi
lingkungan yang mempengaruhi fetus dalam uterus yang dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan janin antara lain gangguan nutrisi karena ibu
kurang mendapat asupan gizi yang baik, gangguan endokrin pada ibu (diabetes
mellitus), ibu yang mendapatkan terapi sitostatika atau mengalami infeksi
rubela, toxoplasmosis, sifilis dan herpes. Faktor lingkungan yang lain adalah
radiasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ otak janin.
b) Lingkungan pos-natal
Lingkungan
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan setelah bayi lahir adalah
:
1) Nutrisi
Nutrisi
adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses
pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan
seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air.u Apabila
kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpenuhi maka dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan anak. Asupan nutrisi yang berlebihan juga
berdampak buruk bagi kesehatan anak, yaitu terjadi penumpukan kadar lemak yang
berlebihan dalam sel/jaringan bahkan pada pembuluh darah.
Penyebab
status nutrisi kurang pada anak :
·
Asupan
nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif
·
Hiperaktivitas
fisiik atau istirahat yang kurang
·
Adanya
penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi
·
Stres
emosi yang dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau absorbs makanan yang
adekuat
2) Budaya Lingkungan
Budaya
keluarga atau masyarakat akan mempengaruhi bagaimana mereka dalam
mempersepsikan dan memahami kesehatan dan perilaku hidup sehat. Pola perilaku
ibu hamil dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya, misalnya larangan untuk makan
makanan tertentu padahal zat gizi tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin. Keyakinan untuk melahirkan d dukun beranak dari pada di
tenaga kesehatan. Setelah anak lahir dibesarkan di lingkungan atau berdasarkan
lingkungan budaya masyarakat setempat.
3) Status Sosial dan Ekonomi Keluarga
Anak yang
dibesarkan di keluarga yang nerekonomi tinggi untuk pemenuhan kebutuhan gizi
akan tercukupi dengan baik dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di keluarga
yang berekonomi sedang atau kurang. Demikian juga dengan status pendidikan
orang tua, keluarga dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima arahan
terutama tentang peningkatan pertumbuhan dan perkembangan anak, penggunaan
fasilitas kesehatan dll dibandingka dengan keluarga dengan latar belakang
pendidikan rendah.
4) Iklim atau Cuaca
Iklim tertentu
akan mempengaruhi status kesehatan anak misalnya musim penghujan akan dapat
menimbulkan banjir sehingga menyebabkan sulitnya transportasi untuk mendapatkan
bahan makanan, timbul penyakit menular,dan penyakit kulit yang dapat menyerang
bayi dan anak-anak.
Anak yang tinggal di daerah endemik
misalnya endemik demam berdarah, jika terjadi perubahan cuaca wabah demam
berdarah akan meningkat.
5) Olahraga atau latihan fisik
Manfaat
olah raga atau latihan fisikyang teratur akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga
meningkatkan suplai oksigen ke seluruh tubuh, meningkatkan aktivitas fisik dan
menstimulasi perkembangan otot dan jaringan sel
6) Posisi Anak dalam Keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal,
anak sulung, anak tengah atau anak bungsu akan mempengaruhi pola perkembangan
anak tersebut diasuh dan dididik dalam keluarga.
7) Status Kesehatan
Status
kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan.
Hal ini dapat terlihat apabila anak dalm kondisi sehat dan sejahtera maka
percepatan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih mudah dibandingkan dengan
anak dalam kondisi sakit.
8) Faktor Hormonal
Faktor
hormonal yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak adalah
somatotropon yang berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, hormon
tiroid dengan mestimulasi metabolisme tubuh, glukokortiroid yang berfungsi
menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk memproduksi
testosteron dan ovarium untuk memproduksi estrogen selanjutnya hormon tersebut
akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan
sesuai dengan peran hormonnya.
d. Pengukuran Antropometrik
Pengertian istilah “nutitional anthropometry” mula-mula
muncul dalam “Body measurements and Human
Nutrition” yang ditulis oleh Brozek pada tahun 1966 yang telah
didefinisikan oleh jellife (1966 dalam Moersintowati, BN 2005) sebagai
pengukuran pada variasi dimensi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada
tingkat usia dan derajat nutrisi yang berbeda.
Pengukuran antropometri ada dua tipe
yaitu pertumbuhan dan ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran
lemak dan massa tubuh yang bebas lemak. Penilaian pertumbuhan merupakan
komponen esensial dalam surveilan kesehatan anak karena hamper setiap masalah
yang berkaitan dengan fisiologi, interpersonal, dan domain social dapat
memberikan efek yang yang sangat penting untuk penilaian pertumbuhan adalah
kurva pertumbuhan (growth chart) pada gambar terlampir, dilengkapi dengan alat
timbangan yang akurat, papan pengukur, stadiometer
dan pita pengukur.
1)
Pengukuran antropometri, meliputi berat badan, tinggi
badan, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan dan tebal kulit.
2)
Penggunaan kurva pertumbuhan anak (KMS, NCHS),
3)
Penilaian dan analisis status gizi dan pertumbuhan
anak.
4)
Penilaian perkembangan anak dan maturasi
5)
Intervensi (preventif,promotif, kuratif,
rehabilitatif).
6)
Perlu ditekankan bahwa pengukuran antropometri
hanyalah satu dari sejumlah teknik-teknik yang dapat untuk menilai pertumbuhan
dan status gizi. Pengukuran dengan cara-cara yang baku dilakukan beberapa kali
secara berkala pada barat dan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkaran
kepala tebal lipatan kulit (skinfold) diperlukan untuk penilaian pertumbuhan
dan status gizi pada bayi dan anak.
7)
Pertumbuhan
Berat Badan dan Tinggi Badan Terhadap Umur
8)
Pengukuran antropometri sesuai dengan cara-cara yang
baku, beberapa kali secara berkala misalnya berat badan anak di ukur tanpa
baju. Mengukur panjang bayi dilakukan oleh dua orang pemeriksa pada pada papan
pengukur (infantometer),tinggi badan anak diatas dua tahun diukur dengan posisi
anak berdiri menggunakan stadiometer. Baku yang dianjurkan adalah bukuk NCHS
secara Internasional untuk anak usian 0-18 tahun yang dibedakan menurut jender
laki-laki dan wanita.
9)
Penilain berat badan (BB) berdasarumur menurut WHO
dengan baku NCHS. Grafik pertumbuhan BB dalam KMS dibuat berdasarkan baku WHO /
NCHS yang disesuaikan dengan keadaan di Indonesia, meliputi daerah merah
menghubungkan angka-angka 70% median, daerah kuning di atas merah pada batas
75-80% median. Daerah hijau muda adalah 85-90% median, daerah hijau tua 95-100%
median.
10)
Penilaian panjang badan berdasarkan umur menurut WHO
dengan baku NCHS, meliputi lebih dari atau sama dengan 90% adalah normal,
kurang dari 90% adalah abnormal (malnutrisi kronis). Cara canggih yang lebih
tepat untuk menetapkan obesitas pada anak dengan kalkulasi skor Z (atau
standard devisia) dengan mengurangi nilai berat badan yang dibagi dengan
standard deviasi populasi referens. Skoratau > +2 (misalnya 2SD di atas
median) dipakai sebagai indicator obesitas.
11)
Indikator Pemantauan Perkembangan Neonatus
Bayi dan Anak Balita
Perkembangan adalah bertambahnya
kemampuan atau fungsi semua system organ tubuh sebagai akibat bertambahnya
kematangan fungsi-fungsi system organ tubuh.
Perkembangan anak tidak hanya di
tentukan oleh factor genetic (nature)
atau dianggap sebagai sebagai produk lingkungan (nurture) saja. Model
biopsikososial pada tumbuh kembang anak mengakui pentingnya pengaruh kekuatan
intrinsic dan ekstrinsik. Tinggi badan misalnya adalah fungsi antara factor
genetic (biologic), kebiasaan makan (psikologik) dan terpenuhinya makanan
bergizi (social) pada anak.
Gangguan perkembnagan dapat
menimbulkan manifestasi klinik yang bermacam-macam. Manifestasi klinik gangguan
perkembangan tersebut, yakni gangguan motorik kasar, gangguan wicara,gangguan
belajar, gangguan psikologis, gangguan makan, gangguan buang air besar,
kecemasan dan lain-lain.
Skrining
perbangan adalah prosedur yang relative cepat, sederhana dan murah bagi
anak-anak yang tanpa gejala namun mempunyai resiko tinggi atau dicurigai
mempunyai masalah. Beyi atau anak dengan resiko tinggi berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik rutin harus dilakukan skrining secara periodic. Bayi atau
anak dengan resiko rendah dimulai dengan pertanyaan pra-skrining yang diisi
atau dijawab oleh orang tua. Apabila ada kecurigaan dalam tumbuh kembang yang
dijawab oleh orang tua balita.baru dilanjutkan dengan skirining.
Perangkat
skrining perkembangan, terdiri dari beberapa perangkat seperti : denver
development screener (BIS). Pemeriksaan lanjutan juga berguna untuk menentukan
diagnosis. Pemeriksaan lanjutan ini dilaksanakan tergantung jenis gangguan
tumbuh kembang balita seperti pemeriksaan neurologis, radiologis, genetis,
endokrin dan lain lain. Apabila semakin kompleks gangguan tumbuh kembang bayi,
diperlukan tim yang lebih lengkap dan terkoordinir yang melibatkan dokter
spesialis anak,special THT, spesialis mata, psikiater, rehabilitasi medic,
ortopedi dan lain-lain. Dari sini akan terlihat besarnya peran orang tua dan
anak dalam dalam proses tumbuh kembang anak.
12)
Denver
Development Screening Test
Deteksi
tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan
ditemukan penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak secara dini, maka
intervensi akan lebih mudah dilakukan. Tenaga kesehatan juga akan mempunyai
waktu dalam membuat rencana tindakan atau intervensi yang tepat. Terutama
ketika harus melibatkan ibu/ keluarga.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Asuhan ini
diberikan dengan tujuan agar bidan dapat memberikan asuhan komprehensip kepada
bayi baru lahir saat masih berada diruang rawat serta mengajarkan kepada orang
tua dan memberi motivasi agar menjadi orang tua yang percaya diri. Setelah
kelahiran, akan menjadi serangkaian perubahan tanda-tanda vital dan tampilan
klinis jika bayi reaktif terhadap proses kelahiran.
Asuhan
pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan
Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment
harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi,
sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986),
sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua
individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab
(Nelson, 1986).
B.
Saran
Anak
adalah anugrah tuhan yang paling berharga jadi cintai dan sayangilah dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar